August 13, 2017 Renungan Harian ImT-Admin Share Articles
Minggu, 13 Agustus 2017 Hari Raya St. Perawan Maria Diangkat ke Surga

LUKAS 1:39-56

Perjalanan Maria setelah menerima Karunia Allah dilanjutkan dalam kisah bacaan hari ini.

Pertama, Maria berkunjung kepada Elisabet saudaranya. Kunjungan ini patut dilihat dari sisi rohani Maria yang lebih mendalam. Maria tidak berdiam diri setelah menerima kabar dari malaikat Gabriel, namun ‘menindaklanjuti’ apa yang telah didengar dan dilihatnya.

Ketaatannya tidak berhenti hanya sebatas mendengar, namun juga ‘melaksanakan’ misi karya penyelamatan Allah yang telah ditanam dalam dirinya. Maria mendengar Firman Allah dan memeliharanya seperti suara hatinya yang berkata :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

 

Tak heran, anak dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan ketika mendengar salam yang diucapkan Maria, karena anak dalam kandungan Elisabet juga merupakan bagian dari rencana Allah. Dia adalah Yohanes Pembaptis. Lebih lanjut, salam yang diucapkan Maria saat berkunjung menggema luar biasa dan mendatangkan sukacita bagi pendengarnya, Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus dan berseru nyaring mengucapkan kata-kata berkat kepada Maria, seolah telah mengetahui apa yang terjadi dengan Maria.

Tidak tanggung-tanggung, Elisabet dengan kerendahan hati menyebut ‘ibu Tuhanku’ kepada Maria : “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?. Sebutan yang pantas bagi Maria karena dengan demikian iapun disebut Bunda Allah, sebutan yang terus menggema hingga hari ini dan telah banyak menolong jiwa-jiwa menderita yang memohon pertolongan kepada Allah dengan perantaraannya.

 

Allah terlihat begitu dekat dengan orang-orang yang berasal dari kaum ‘kecil’ seperti Maria yang merasakan kesusahan dan penindasan pada masa itu namun juga tidak kurang kepada Elisabet yang mandul hingga hari senjanya. Bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

 

Kedua, Kidung pujian ‘Magnificat’ semakin mempertegas eksistensi Maria sebagai bagian terpenting dalam kehidupan perjanjian baru bangsa Israel saat itu, bahkan hingga hari ini. Kidung Magnificat dilantunkan sebagai wujud syukur atas kebesaran dan keagungan Tuhan yang telah memperhatikan orang-orang ‘kecil’ seperti Maria dan kaumnya. Orang-orang yang hidupnya lebih beruntung dan berkelebihan diajak untuk ikut memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Ini maksud “menceraiberaikan orang yang congkak hati , menurunkan orang yang berkuasa dari tahtanya”.

Di bagian penutup kidung juga terungkap bahwa rencana Allah dalam dirinya tidak terlepas dari pemenuhan janji Allah kepada nenek moyang bangsa Israel dan keturunannya.

 

Kemanusiaan, ketaatan dan kerendahan hati Maria sejak ia dipilih Allah memberi inspirasi dan teladan bagi umat manusia. Peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan Maria bahkan telah menjadi bagian devosi dan perayaan  kehidupan gereja dari waktu ke waktu untuk merefleksikan kembali nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan Maria sebagai jalan menuju kepada keselamatan. Pesta perayaan St.Perawan Maria diangkat ke surga pada hakekatnya juga mengingatkan bahwa pada saatnya umat manusia akan kembali kepada Sang Pencipta walau harus melalui pengadilan terakhir.

Kehidupan dan cara hidup manusia yang terutama harus mulai ditata ulang, yang bengkok diluruskan agar selaras dengan kehendak-Nya, seperti lantunan Kidung Maria : “…..dan nama-Nya adalah Kudus. Dan rahmat-Nya turun temurun atas orang yang takut akan Dia” { Lukas 1:49b-50 )

 

Djoli Nizar  (Team KKS)