S-Kerasulan KItab Suci Share Articles

Seminar Bulan Kitab Suci 2017 : Ajaran-Ajaran Sesat Dalam Gereja Katolik

Di dalam sejarahnya, komunitas gerejawi mencatat sekian banyak aliran yang dinilai oleh lembaga yang ditugaskan untuk hal itu sebagai aliran yang tidak sejalan dengan pandangan, ajaran dan kebijakan pastoral komunitas.  Aliran-aliran itu dinyatakan sebagai bersifat heterodoks.  Sebab aliran itu memahami, mengajarkan, dan menyebarluaskan pandangan, tafsiran, dan keyakinan yang tidak sejalan dengan ketetapan, kebiasaan (tradisi), dan autoritas yang diklaim dimiliki oleh lembaga resmi, yang ortodoks sifatnya.  Lembaga resmi gerejawi -terutama Gereja Katolik- demi tugas dan kepercayaan untuk “menggembalakan kawanannya” membuat dan menetapkan rambu-rambu agar kawanannya dan bersama semua anggota lainnya memahami dan menghayati pesan serta ajaran Guru Kehidupan dari Nazareth yang dilestarikan oleh para Rasul.

Lembaga Gereja demi kepentingan serta pelayanan pastoral tidak menenggang tafsir atas Injil Kristus dan doktrin untuk kehidupan iman komunitas secara serampangan dan sembrono.  Tidak dinyatakan bahwa keanekaragaman tafsir itu tidak diperkenankan, tetapi keanekaragaman itu tidak selalu berarti bertentangan atau bertolakbelakang dengan tafsir dan disiplin.  Tafsir tepat yang selalu diperlukan adalah yang demi kebenaran (sedekat mungkin dengan sumber yang ditafsirkan) dan demi komunitas yang dilayani.  Keduanya tetap dijaga seimbang.

Aneka ragam aliran “keagamaan” yang dicap sebagai “keblinger”, “sesat”, “heretic” atau “bidat” tidak muncul secara serta merta, tetapi selalu kait mengait.  Aliran itu perlu dipelajari dengan teliti dan seksama demi manfaat dalam kehidupan berkomunitas secara tepat.

Semua aliran yang ditampilkan tadi, muncul dengan motivasi yang beraneka ragam.  Selain itu, dasarnya pun bermacam-macam.  Tetapi mungkin sasaran dari aliran itu tidak beragam, melainkan cukup simple, yakni ingin membantu orang untuk menghayati imannya dengan teguh dan benar.  Aliran-aliran itu kiranya memperlihatkan entusiasme, gairah atau semangat dalam hidup berkomunitas Kristiani, yang hendak mengangkat asas kebebasan dalam melakukan hermeneuse (tafsir) dengan tidak memperhatikan atau mengabaikan autoritas dalam komunitas Kristiani, dimana “pengajar” itu menjadi anggotanya.  Tidak jarang terjadi, aliran itu juga disebabkan oleh kedangkalan pengetahuan iman, dan kurang kerjasama dalam komunitas umat beriman.  Aliran itu mungkin pula dipersubur oleh anggota Gereja sendiri yang tidak menjalankan sepenuh hati ketentuan iman yang sudah diprofesikan pada saat dibaptis di dalam Gereja Kristus.

Untuk menangkal dan menanggulangi munculnya pelbagai aliran yang menggerogoti dari dalam keberadaan komunitas gerejawi kita, kiranya katakese yang disegarkan, persiapan sakramen, studi Kitab Suci, pendalaman iman dalam pewartaan Sabda dan khotbah, hidup doa dan liturgi, dan bukan pertama-tama pembangunan fisik dan perayaan-perayaan ritual.  Dasar dari semua tindakan itu adalah kehendak kuat untuk menghimpun diri dalam gerakan bersama guna mencari Tuhan sampai jiwa ini beristirahat dalam Dia, yang Empunya Hidup ini.

Uraian diatas menjadi kesimpulan Seminar “Ajaran Ajaran Sesat Dalam Gereja Katolik” yang dibawakan oleh Romo Prof. Dr. Eddy Kristiyanto, OFM., Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, yang diadakan tanggal 16 September 2017, pukul 08:00 – 12:30 di Aula lantai 4 Gedung Pastoral Paroki, Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading.  Seminar yang dibuka oleh Romo Antonius Gunardi, MSF dihadiri sekitar 400 orang peserta.

 

  

 Photografer : Andy dan Poernomo ; Narasi : Andy  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 12 =