S-Kerasulan keluarga Share Articles

SURAT KELUARGA BULAN DESEMBER 2017

KEBHINNEKAAN BERAWAL DARI RUMAH

Keluarga-keluarga Katolik terkasih, melihat situasi bangsa dan Negara kita yang tidak selalu ramah pada kebhinnekaan, sering kita merasa resah. Bangsa dan Negara kita ini dibangun oleh para pendiri dengan kesadaran penuh akan kebhinnekaan yang mendasari keberadaan mula-mula dari Indonesia. Sejak semula, Indonesia tidak pernah berwarna satu. Kita sudah sejak semula bermacam-macam, suku, bangsa dan bahasa.

Kebhinnekaan itu juga terlihat di rumah, ketika setiap pribadi menunjukkan perbedaan di antara mereka. Ada yang suka membaca; ada yang suka bercanda; ada yang suka menyanyi; ada yang lebih sering berdoa; ada yang pendiam; ada yang selalu riang berbicara; atau ada yang sangat kreatif dan gembira. Semua perbedaan itu memperkaya suasana satu sama lain. Suami isteri pun berbeda, karena diciptakan demikian. Anak-anak dan pekerja di rumah juga berbeda. Mereka hidup bersama bukan karena sama, melainkan karena saling memahami.

Mengapa orang belajar untuk membedakan? Sejak lahir, setiap orang diberi pelajaran untuk membela dirinya, menyelamatkan diri melalui berbagai hal. Ibu dan Bapak mengajarkan banyak nasihat dan petuah yang membekas. Berhati-hatilah pada orang itu, atau orang ini. Bermainlah bersama dengan teman itu, karena ia baik dan cocok. Sejak kecil, orang diajar untuk membedakan satu dengan yang lain demi “keselamatan” yang kadang sifatnya sangat subjektif dan cultural, atau bahkan agamis.

Masing masing dari kita belajar untuk mencari yang sama, yang menurut kita lebih enak, mudah, nyaman, ringan, dan pantas. Padahal, kita pun orang yang tidak selalu nyaman dengan orang yang sama. Beberapa bahkan lebih nyaman dengan orang yang berbeda, karena saling melengkapi dan membantu. Kita justru menemukan kenyamanan, ketika perbedaan bukan dijadikan pemecah, melainkan menjadi tantangan bagi setiap kita untuk secara kreatif menemukan pengayaan dari sebuah perbedaan.

Anak-anak adalah pribadi yang paling mudah dibentuk dan dibudayakan. Mereka cepat sekali belajar hal-hal baru, seperti Bahasa, pelajaran, lagu-lagu, nasihat, atau nama-nama baru. Ketika seorang dewasa mengajari mereka sesuatu, mereka akan sangat mudah mengingat dan kemudian menyimpannya dalam relung hati/ingatan. Ingatan akan mempengaruhi cara berpikir, merasa dan akhirnya bertindak. Perilaku anak, seperti halnya orang dewasa, dipengaruhi oleh apa yang diyakininya benar.

Tetapi apakah kebenaran itu? Salah satu faktor yang membuat orang meyakini bahwa sesuatu itu benar adalah pengajaran, doktrin, budaya, dan agama, yang membuat orang menganggap bahwa kriteria kebenaran tercapai. Kebenaran amat dipengaruhi oleh apa yang diajarkan oleh orangtua, orang serumah, orang yang signifikan dalam rumah asal atau keluarga asal. Secara subjektif, setiap orang bisa menganggap bahwa kebenaran adalah apa yang selama ini diajarkan dan dianggap benar oleh keluarganya.

Maka, sangat pentinglah mengajarkan sesuatu yang baik, yang sesuai dengan norma-norma keyakinan bersama dan bangsa. Jika bangsa Indonesia meyakini bahwa perbedaan itu memperkaya dan saling meneguhkan, maka kita harus mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak, agar mereka pun berpikir sama seperti kebanyakan Orang Indonesia yang baik. Kebhinekaan benar-benar dimulai dari rumah, ketika orang menghargai bahwa dirinya dan orang lain tidak sama dan bahkan bertolak belakang.

Kesamaan harus dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan, sedangkan perbedaan adalah sesuatu yang lebih nyata terjadi dalam setiap komunitas, entah itu keluarga, sekolah, teman bermain, atau tetangga selingkungan. Ajarkanlah anak-anak kenyataan itu, supaya mereka mengetahui bahwa perbedaan harus dimenangkan dengan rasa hormat mendalam, diakui dengan pikiran yang cerdas, diyakini adanya dengan mata batin, dan dipercaya sebagai ciptaan kreatif Allah dalam dunia yang serba berwarna ini.

Keluarga-keluarga yang terkasih, kita tahu bahwa hidup adalah kebersamaan yang membangun dan membawa rasa aman, nyaman, dan bertumbuh. Bertumbuhlah di dalam keberagaman itu. Jadikan diri kita, dan semua keturunan kita, pribadi yang mendukung keberagaman. Ajarkanlah orang-orang tercinta cara hidup yang memperkaya, mencintai, menghargai, menghormati, dan diterima oleh semua kalangan dalam perbedaan yang membawa sukacita.

Marilah dalam masa adven ini kita kembali mengingat kebaikan Bapa yang mengutus Putera-Nya, Yesus kepada segala bangsa, kepada semua manusia tanpa membedakan, dan kepada kita di mana saja. Ikutlah jalan Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita dengan bersikap adil, penuh kasih, mengajak bekerjasama, menciptakan dunia sekitar yang semakin sejahtera dan ramah untukditinggali bersama. Bhinneka Tunggal Ika biarlah menjadi semboyan abadi bangsa kita.

 

SELAMAT ADVEN DAN

SELAMAT MERAYAKAN HARI NATAL

Salam dalam Yesus Maria dan Yosef

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − three =